Doa Untuk Prof Syamsu


syamsu
Jika mengingat para dosen kita di FK Unhas, banyak sekali orang-orang hebat dan baik yang tak akan bisa kita lupakan. Ada satu orang yang kali ini saya ingin tulis-tulis dengan hormat. Saat ini beliau masih terbaring sakit karena stroke, mari kita doakan bersama agar guru kita ini segera diberikan kepulihan oleh Tuhan.
Saya kira alumni Unhas pasti semuanya mengenal beliau. Saat Prof. Dali berkunjung ke Kanazawa beberapa saat yang lalu, beliau pun sempat bercerita tentang Prof. Syamsu. Katanya satu-satunya mahasiswa kedokteran dulu yang aktivitas kemahasiswaannya super sibuk namun mata kuliahnya tak pernah jatuh adalah beliau. Kalau tidak salah beliau pernah jadi ketua HMI cabang Makassar dan ketua senat mahasiswa FKUH (kalau sekarang BEM) di zamannya. Padahal dulu kan seram sekali sistemnya, sudah perkuliahannya keras, yudisiumnya seperti naik kelas. Satu mata kuliah jatuh, maka semuanya harus diulang lagi dari awal, walaupun sudah dapat A misalnya. Serem kan. Dan satu lagi katanya dalam kondisi apapun, Prof selalu bisa tampil rapi dengan sisiran rambut yang selalu klimis.
Bagian yang paling saya ingat dari Prof. Syamsu adalah kesederhanaannya. Suatu ketika kami mengundang beliau jadi pembicara di acara kemahasiswaan. Saat itu beliau datang diantar istrinya, saat hendak pulang kami menawarkan untuk mengantarnya dengan salah satu mobil panitia. Tapi beliau bilang tidak usah, tidak ingin merepotkan, nanti saya pulang naik pete-pete saja. Padahal saat itu beliau sudah wakil dekan satu di Fakultas. Orang sebesar itu gitu loh.
Dan di rumahnya dulu Perumdos jalan Sunu, pernah suatu kali kami datang. Biasa, meminta sumbangan untuk “Basic training” HMI. Untuk urusan satu ini beliau selalu membuka tangan, membantu mahasiswa, tidak pernah menolak. Kita disuruh menunggu di ruang tamu. Rumah yang masih sangat sederhana saat itu, bahkan saya tidak ingat ada TV tidak ya disana. Namun bagian paling menariknya adalah di meja, sebelumnya berkumpul beliau, istrinya dan tiga anaknya. Sedang belajar bersama dan ketiga anak beliau kebetulan mahasiswa kedokteran juga. Nah, ternyata ada jam belajar dimana mereka ditemani oleh Prof. Ah keren sekali, jadi tahu kenapa dua senior dan satunya adek ini pintar-pintar ya di kampus. Beda ya dengan kita, sudah tidak pernah nemani anak belajar, pas si anak dapat nilai jelek naik darahlah kita.
Di fakultas, beliau adalah senior yang sangat didengarkan. Semacam penengah, kata satu senior yang lain. Tenang, sabar, tidak berapi-rapi, “Poker face”, apa yang dikatakan sangat dipikirkan dengan baik. Saya kira semua orang pernah berkonsultasi dengan dia, termasuk mahasiswa. Kalau saya, saya suka ngobrol dengan beliau soal kemahasiswaan di ruangannya dulu karena walaupun beliau selalu memberikan kritikan pedas. Setelah itu dia akan jalan ke lemari tempat beliau menyimpan bukunya, mengambil beberapa, lalu bertanya “Kau sudah baca ini?” Pastilah kita akan menjawab, belum Prof.
Ada banyak buku yang pernah dipinjamkan beliau untuk kami. Lali dipinjamkan lagi dari tangan ke tangan, entah berakhir dimana dan tak pernah balik lagi ke beliau. Nampaknya sudah diiklhaskan oleh beliau. Hehehe. Saya masih menyimpan satu, buku karya Osman Bakar dari beliau, Islam dan Sains.
Nah saat mahasiswa pun saya punya kenangan konyol dengan beliau. Dulu ada larangan tinggal di kampus sampai malam. Jadi pintu-pintu masuk fakultas dipasangi terali dan digembok. Namanya mahasiswa pasti selalu selalu punya akal. Ah, ada tempat yang bisa dipanjati di jembatan antara FK dan FKG, sekarang jadi masjid. Suatu ketika saya dan beberapa kawan kemalaman pulangnya, pagar sudah digembok, alamat manjat lagi kayaknya ini. Manjatlah kita turun dari lantai 2 ke lantai 1. Sampai dibawa, ada bapak-bapak berdiri, karena gelap kita dekati. Eh ternyata PD1, Prof. Syamsu. Kaget dan secara refleks saya ciumi tangannya. Beliau tidak jadi marah, cuma tersenyum sinis. “Besok menghadap ke kantor”. Ahahaha. Bisa diprediksi apa yang terjadi keesokan harinya.
Dan ingatan terakhir yang berkesan dengan beliau adalah suatu saat saya demam dan sakit kepala yang luar biasa. Saat itu saya sudah jadi dosen baru dan kami-kami baru saja jadi panitia akreditasi fakultas yang sangat melelahkan. Istri saya melapor ke salah seorang senior, Kak Irwin yang kemudian menjemput saya ke tempat praktek Prof. Syamsu. Sampai disana, setelah diperiksa, beliau langsung bilang “Ini Typoid, opname ya malam ini, nanti langsung singgah di Wahidin”. Saat itu kalau tidak salah Prof adalah salah satu wakil direktur rumah sakit Wahidin, beliau menelpon entah siapa, meminta disiapkan satu ruangan VIP ada pasiennya mau masuk. Padahal yang mau masuk dosen baru, masih “cundekkeng”.  Beliau juga yang akhirnya merawat saya disana selama seminggu, tanpa memungut sepeser pun jasa perawatan. Padahal sebelumnya saya sudah khawatir dengan biayanya. Aduh terima kasih banyak Prof atas kebaikannya.
Ah semoga beliau diberikan mukjizat oleh yang Maha Kuasa, saya kira banyak dari kita yang punya kenangan baik dan terkesan dengan kebaikan-kebaikan beliau. Mohon doa dari semuanya untuk guru kita ini.  Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s