Jejak-jejak Pahlawan Karbala

Datangnya bulan Muharam kembali mengingatkan kita atas peristiwa sadis yang terjadi di Padang Karbala, di mana Imam Husein bin Ali bin Abi Talib, cucu Rasulullah Saw beserta keluarga dan pengikutnya dibantai secara kejam oleh mereka yang mengaku pengikut kakek beliau. Setiap orang yang mengaku pengikut serta pecinta Rasulullah pasti berduka cita atas musibah ini dan dengan berbagai cara mereka berinteraksi dengan Imam Husein serta revolusi yang beliau tegakkan. Hal ini disebabkan karena revolusi yang beliau kobarkan bukan sekedar peperangan. Kebangkitan ini ibarat sebuah kelas yang mengajarkan nilai-nilai moral dan makrifat tertinggi.

Di hari itu, ketika Imam Husein memulai revolusinya, mayoritas penduduk Kufah adalah pecinta Ahlul Bait. Mereka sadar atas ketidaklayakan Yazid bin Muawiyah menduduki kursi khilafah dan mereka juga menyaksikan kebobrokan serta kejahatannya. Di sisi lain, warga Kufah mengetahui dengan jelas kedudukan tinggi Imam Husein as. Namun dari mayoritas penduduk Kufah yang mengaku pecinta Ahlul Bait, hanya sedikit dari mereka yang bangkit membela Imam Husein di Padang Karbala.

Sejatinya apa keistimewaan pada pendukung dan penolong Imam Husein di Padang Karbala sehingga mereka rela bangkit dan menyumbangkan jiwanya membela cucu Nabi di saat umat Islam terlena dan tidur. Tentunya salah satu keunggulan revolusi Imam Husein yang dapat kita saksikan adalah kesiapan para sahabat beliau mengorbankan nyawanya demi Imam mereka. Mengkaji peristiwa Karbala tanpa melibatkan para sahabat Imam Husein tak mungkin dapat dilakukan.

Salah satu sifat utama sahabat Imam Husein adalah keyakinan dan makrifat tinggi mereka terhadap jalan yang mereka tempuh. Yakin membuat tekad manusia semakin bulat dalam menempuh jalan yang mereka pilih. Keyakinan ibarat bara api yang membakar setiap keraguan. Jika tidak ada makrifat yang akan terjadi adalah kemunduran. Para sahabat Imam Husein telah mencapai makrifat yang tinggi. Mereka mengetahui siapa yang dibela dan untuk siapa mereka berkorban. Ketinggian makrifat mereka dapat diselami di ucapan mereka saat maju ke medan perang. Ucapan Qasim bin Hasan, putra Imam Hasan bin Ali bin Abi Talib, keponakan Imam Husein dan Habib bin Mazaher menceritakan realita ini.

Kini kami akan mengajak anda mengikuti kisah perjalanan para sahabat Imam Husein ke Padang Karbala. Tokoh pertama dan kedua yang akan kita ceritakan adalah Habib bin Mazaher dan Muslim bin Ausajah. Habib dan Muslim dengan mengendarai kuda keluar meninggalkan kota Kufah. Habib yang telah berusia 80 tahun dan pembela Imam Ali bin Abi Talib, kini meninggalkan keluarganya demi membela anak Imam Ali as. Usianya yang telah uzur tak mengurangi semangatnya, dia ibarat seorang pemuda yang masih segar dan bersemangat. Perlahan-lahan ia membuangkan pandangannya ke arah kota Kufah, kota yang sempat menjadi basis Muslim bin Aqil mengumpulkan pendukung Imam Husein.

Habib bin Mazaher dan Muslim bin Ausajah tiba di Karbala di hari keenam Muharam. Setibanya di sana keduanya langsung menemui junjungan mereka Imam Husein as. Ketika melihat kedatangan Habib, Imam Husein langsung bangkit dan merangkulnya. Sementara itu, Habib sendiri sambil bercucuran air matanya mengucapkan syukur kepada Allah swt karena diberi kesempatan berjumpa dengan cucu Rasulullah. Rasa syukurnya tersebut diwujudkan dengan sujud syukur di atas bumi Karbala.

Di antara sahabat Imam Husein yang hadir di Karbala, Habib bin Mazaher paling tua usianya. Namun, usia lanjut tak mempengaruhi semangatnya, tercatat dalam sejarah bahwa ia merupakan orang yang paling semangat membela Imamnya. Di malam hari, Habib mengisi waktunya dengan beribadah dan munajat kepada Allah serta membaca al-Qur’an. Lantunan al-Qur’an Habib di setiap malam memenuhi Padang Karbala. Tak  hanya itu, Habib juga giat menasehati pasukan musuh yang setiap harinya kian bertambah, dengan harapan mereka dapat sadar. Ia berkata, ‘Wahai kaum, kalian adalah seburuk-buruknya umat. Kemarin kalian menulis surat mengundang Imam Husein, namun kini kalian malah memusuhinya. Nanti di hari Kiamat apa jawaban kalian jika cucu Rasulullah, Ahlul Baitnya serta sahabat setianya terbunuh?’

Di malam Asyura terlihat Habib semakin semangat. Perintah Imam bagi Habib telah tiba. Imam memerintahkan Habib untuk mempersiapkan diri untuk mereguk cawan syahadah di hari Asyura besok. Sementara itu, lantunan Kalam Ilahi yang dikumandangkan Habib setiap malam dan munajatnya mengetuk setiap sanubari yang sadar. Di malam Asyura ketika tengah malam telah lewat terdengar suara gaduh di kemah Habib. Nafi’ bin Hilal menemui Habib dan menjelaskan kekhawatirannya. Habib menanyakan sebab kekhawatiran Nafi’. Nafi’ mengatakan, Saya berada di luar kemah ketika saya menyaksikan Imam Husein menggali parit. Saya pun menemani beliau. Imam berkata, Saya menggali parit di sekitar kemah dengan harapan ketika terjadi perampokan dan perampasan serta pembakaran kemah, keluargaku tidak akan dianiaya. Saya pun membantu beliau menggali parit.

Nafi’ melanjutkan, aku menangis sedangkan kedua tanganku mulai mengeluarkan darah. Tak lama kemudian Imam kembali ke kemah dan saya melepas kepergian beliau. Imam pun menuju kemah Zainab, saudarinya dan saya mendengar putri Ali ini berkata, Saudaraku, apakah kamu telah menguji seluruh sahabatmu bahwa besok mereka tidak akan meninggalkanmu meski nyawa sebagai taruhannya. Nafi’ melanjutkan, Wahai Habib ! Putri Rasulullah sangat khawatir tentang besok, sepertinya beliau tidak mempercayai kita. Mari kita menemuinya dan menegaskan kesiapan kita mengorbankan nyawa demi Imam Husein.

Malam itu, ketika Habib mengetahui kekhawatiran Sayyidah Zainab dengan membawa sejumlah sahabat Imam Husein, ia mendatangi kemah Zainab. Ketika tiba di dekat kemah Zainab, Habib berhenti dan berkata, Wahai putri Rasulullah, wahai pelita Imam Ali as, jika saat ini Imam Husein memerintahkan kepada kami maka kami akan menyerbu musuh. Nyawa yang kami korbankan demi Husein ini milik siapakah ? Saat mengucapkan kata-katanya, air mata Habib bercucuran dengan derasnya.

Ketika itu, terdengar suara Sayyidah Zainab yang memuji para sahabat Imam. Zainab berkata, Selamat wahai kalian penolong, kalian telah membela kehormatan putri Rasulullah. Jagalah kemah-kemah kami. Tak lama kemudian, Habib merasakan pundaknya ditepuk secara perlahan oleh seseorang. Ia menoleh dan menyaksikan yang menepuk pundaknya tadi adalah Imam Husein. Kemudian Imam berkata kepada Zainab, Saudariku aku telah menguji para sahabatku. Demi Allah ! mereka ibarat batu karang yang kokoh dan tidak akan goyah. Di malam Asyura, Habib berkata kepada teman-temannya, besok kita harus menjadi syuhada pertama dan jangan kita biarkan Bani Hasyim maju ke medan perang, kita adalah pembela mereka. Sepanjang malam Asyura, Habib giat memberi semangat kepada teman-temannya dan beribadah.

Saat shalat subuh pun tiba, Habib berada di saf (barisan) kiri untuk shalat berjamaah. Di pagi hari itu, Habib terlihat sangat gembira melebihi anak-anak muda. Usai shalat, Habib sibuk mengatur barisan sahabat Imam Husein untuk menghadapi pasukan musuh. Ketika genderang perang telah ditabuh dan anak panah pasukan Umar Saad mulai menghujani rombongan Imam, Habib langsung melesat ke medan tempur. Dengan suara keras, Habib berteriak, Aku Habib putra Mazaher. Kami berada dalam jalan kebenaran sedangkan kalian para pengkhianat. Wahai para penjahat jangan kalian diam, aku akan menarikan pedangku di antara kalian dan saya tidak takut. Kematian bagi kami ibarat madu. Aku adalah penolong Husein, Imam yang layak dan suci.

Di antara hujan panah dan tombak, Habib bertakbir dan berkata, hari ini aku akan membantai musuh Husein. Saat itu, terlihat seorang prajurit pasukan Umar Saad mendekati Habib dan mengayunkan pedangnya untuk membunuh Habib. Namun serangan tersebut luput dan Habib tidak memberi ampun kepadanya. Saat itulah sebuah tombak melayang dan menancap di kaki Habib dan sabetan pedang mengenai kepalanya. Ketika Habib terjatuh dari kudanya, musuh baru berani mendekatinya dan memperketat kepungannya. Sahabat Rasul, Ali dan Imam Husein ini jatuh ke tanah. Darah membasahi rambutnya yang memutih. Akhirnya pasukan tertua Karbala ini meneguk cawan syahadah. Ketika mengetahui sahabatnya gugur, Imam Husein berkata, Wahai Habib ! Allah memberkatimu. Siapa pemilik keutamaan yang setiap malam menghabiskan waktunya untuk mengkhatamkan al-Qur’an.(IRIB Indonesia)

Jejak-Jejak Pahlawan Karbala, Qasim bin Hasan

Satu dari keistimewaan para sahabat Imam Husein as adalah kecintaan luar biasa mereka kepada beliau. Mereka punya keyakinan kuat akan kebenaran Imam Husein as dan jalan yang ditempuhnya. Mereka bak laron yang terbang berputar-putar mengelilingi lilin keberadaan Imam Husein as. Segala kecintaan ini ditunjukkan mereka hingga menjadi sebuah semangat dan loyalitas luar biasa kepada Imam Husein as. Bahkan boleh dikata, kecintaan mereka kepada Imam Husein as telah melampaui batas cinta biasa.

Oleh karenanya, mereka siap mengorbankan jiwa dan hartanya untuk membantu dan menolong Imam Husein as. Bahkan ketika Imam Husein as memberikan kebebasan kepada mereka untuk memilih kembali ke rumah dan kotanya, tapi mereka menolak meninggalkan beliau seorang diri. Padahal mereka tahu bahwa akhir dari sikap yang mereka pilih ini adalah syahadah. Mereka tidak bersedia berpisah dari Imam Husein, sekalipun nyawa taruhannya. Sebaliknya, Imam Husein as juga mengetahui bahwa jalan yang ditempuhnya penuh dengan masalah. Untuk itu, beliau memutuskan untuk mempersiapkan semangat dan jiwa mereka guna dapat melewati jalan terjal ini.

Kecintaan para sahabat Imam Husein dapat ditelusuri dari ungkapan-ungkapan mereka di malam Asyura. Mereka betul-betul menampakkan puncak kecintaannya kepada Imam Husein as dan semua itu dibuktikan pada hari Asyura. Pada malam Asyura, Zuhair bin Qain kepada Imam Husein as berkata, “Bila saya meninggal dan kemudian dihidupkan kembali lalu meninggal lagi dan ini berlanjut terus hingga seribu kalipun saya tidak akan meninggalkanmu sendiri.” Setelah itu para sahabat beliau berkata, “Demi Allah, kami tidak akan berpisah denganmu. Jiwa kami menjadi tebusanmu, kami hanya merasa telah memenuhi janji ketika telah meninggal.”

Tak syak, ungkapan-ungkapan semacam ini hanya akan muncul dari hati mereka yang telah dipenuhi rasa cinta luar biasa. Para sahabat Imam Husein as selalu memikirkan dan mengkhawatirkan keadaan Imamnya, padahal mereka sendiri berada dalam kondisi yang sangat sulit, bahkan di detik-detik terakhir kehidupannya. Sebagian dari mereka bahkan menjadikan dirinya tameng dari anak-anak panah yang melesat menarget Imam Husein as. Mereka benar-benar membuktikan janjinya untuk tidak membiarkan anak panah atau senjata tajam apa saja menyentuh tubuh beliau, selama mereka masih hidup. Sekaitan dengan ini, Thabari, sejarawan besar Islam menulis, “Ketika para sahabat Imam Husein as melihat musuh semakin banyak mengepung, mereka berlomba-lomba untuk melindungi jiwa Imam Husein as.

Meneliti lebih jauh, kecintaan para sahabat Imam Husein as kepada beliau ternyata tidak hanya sebatas perasaan belaka. Karena kecintaan ini punya akar dalam logika ilahi. Para sahabat loyal Imam Husein as melihat ucapan dan perilaku beliau bak cahaya dalam kegelapan. Oleh karenanya, mereka melihat beliau sebagai pembawa obor kebenaran. Ketika sebagian tokoh terkenal Islam masih meragukan langkah yang diambil oleh Imam Husein as, para pecintanya telah melangkah lebih jauh. Mereka sudah siap mengorbankan dirinya di jalan kebenaran agar nilai-nilai dan keutamaan ilahi tetap langgeng.

Ketika menggambarkan dan memuji para sahabatnya, Imam Husein as berkata, “Aku belum pernah melihat sahabat yang lebih baik dan loyal dari kalian serta keluarga yang lebih baik dari keluargaku. Semoga Allah membalas kebaikan kalian.” Para sahabat Imam Husein as tidak pernah meninggalkan medan pertempuran untuk membela kebenaran. Mereka bahkan mendemonstrasikan puncak keindahan dari sifat kekesatriaan. Kali ini kita akan mencermati lebih jauh kehadiran seorang pemuda di Karbala yang ikut membela cita-cita perjuangan Imam Husein as. Ia boleh berbangga, karena menyertai Imam Husein as semenjak dari Madinah. Ia tidak lain Qasim bin Hasan bin Ali, keponakannya sendiri.

Pada waktu itu, Qasim baru berusia 14 tahun. Qasim sangat mencintai pamannya, Husein. Ayahnya, Imam Hasan as dalam wasiatnya kepada Imam Husein as menekankan agar mengasuh dan mendidik anak-anaknya, sepeninggal dirinya. Imam Husein as mendidik Qasim, keponakannya sama seperti memperlakukan anaknya sendiri. Hal itu dilakukannya agar Qasim tidak merasa sedih kehilangan ayahnya. Dengan demikian, Qasim merasakan kehidupan paling indah bersama pamannya. Ia mewarisi kebaikan ayahnya dan mempelajari sifat-sifat mulia dari pamannya.

Suatu hari pamannya berkata, “Wahai Qasim! Bersiaplah untuk berhijrah. Karena Madinah sudah tidak lagi aman buat kita.” Ucapan pamannya masih menyisakan pertanyaan dan keanehan di hatinya. Ia memutuskan untuk tidak berpisah dari pamannya. Ketika telah tiba waktu untuk berangkat, Qasim ikut dalam rombongan dan tidak pernah jauh dari pamannya. Karena itu Qasim dapat menyimak seluruh ucapan dan pencerahan yang disampaikan pamannya.

Suatu waktu Imam Husein as berkata, “Wahai umat Islam! Hendaknya kalian bersikap waspada. Karena Bani Umayyah adalah pengikut setan. Mereka telah meninggalkan aturan ilahi, menghalalkan yang haram dan sebaliknya, mengharamkan yang halal. Saya lebih layak dari siapapun saat ini untuk melakukan perubahan. Bila saat ini kalian melanggar janji, buat saya hal ini bukan hal yang aneh. Karena sebelum ini kalian telah melakukan hal yang sama kepada ayah dan saudaraku.” Mendengar ucapan pamannya, Qasim semakin memahami betapa tertindasnya pamannya Husein. Di dalam hatinya Qasim berkata, “Ya Allah, mengapa suara anak Nabi tidak menggetarkan hati mereka?”

Malam Asyura tiba. Para sahabat bak laron berkumpul mengelilingi Imam Husein as. Malam Asyura dimanfaatkan oleh Imam untuk melakukan munajat kepada Allah dan memberikan kesempatan kepada para sahabatnya memilih jalan yang harus ditempuh. Karena jalan syahadah harus dilalui dengan berpikir yang matang. Imam Husein as secara transparan mengatakan bahwa siapa saja yang ingin pergi meninggalkannya, maka malam ini adalah kesempatan terbaik. Karena bila seseorang belum melakukan hijrah dari dalam dirinya, dapat menjadikan malam itu sebagai alasan untuk pergi. Imam kembali mengulangi bahwa besok adalah hari syahadah.

Ucapan Imam Husein as sangat mempengaruhi pikiran Qasim. Apakah keesokan hari adalah hari syahadah? Sebuah pertanyaan yang mengganggu Qasim putra Imam Hasan as. Ia lalu memandang wajah pamannya Husein as. Pada saat yang sama Imam juga memandangnya. Pada saat itu Qasim menanyakan pertanyaan yang mengganggu pikirannya. “Wahai paman, apakah aku akan terbunuh? Seketika wajah Imam Husein terlihat sedih. Beliau kemudian memperhatikan tubuh tegap dan indah Qasim dan bertanya, “Wahai anakku, seperti apa kematian dalam pandanganmu?”

Qasim spontan menjawab, “Kematian dan syahadah bagiku lebih manis dari madu. Bila engkau mengatakan kepadaku bahwa aku menjadi salah satu syahid esok hari, berarti engkau telah memberikan kabar gembira buatku. Mendengar berita ini membuat seluruh tubuhku menjadi segar dan berenergi.” Imam Husein as berkata kepada Qasim, “Besok semua akan meraih cawan syahadah dan engkau satu dari para syuhada.” Mendengar ucapan pamannya, Qasim merasakan kenikmatan luar biasa.

Hari Asyura tiba. Mentari telah naik dan memancarkan panasnya. Qasim tampak tidak sabar ingin menuju medan perang. Anak-anak dan perempuan maju ke depan untuk mengucapkan selamat berpisah dengan Qasim. Setelah itu Qasim mendekati Imam Husein as untuk meminta izin pergi ke medan perang. Imam mengembangkan kedua tangannya memeluk Qasim. Keduanya menangis. Imam berkata, “Keponakanku, tetaplah di sini dan sembuhkan luka yang ada pada hatiku.” Qasim menjawab, “Paman, bagaimana aku tidak pergi dan menyaksikan engkau sendiri tanpa penolong. Aku melihatmu tanpa pendamping.”

Akhirnya Qasim mendapat izin dari pamannya. Dengan sigap ia naik ke punggung kuda sambil berteriak, “Bila kalian tidak mengenalku, ketahuilah bahwa aku anak Hasan al-Mujtaba, cucu Rasulullah Saw.” Hamid bin Muslim, perawi pasukan Umar bin Saad berkata, “Tiba-tiba saya melihat seorang remaja yang menunggang kuda. Kepalanya tidak memakai topi perang, tapi hanya mengenakan sorban. Ia juga tidak memakai sepatu perang. Remaja itu terlihat begitu tampan, sehingga terlihat seperti bulan yang tengah menuju kami.

Dalam riwayat disebutkan bahwa Qasim berhasil menewaskan beberapa orang dengan tebasan pedangnya. Ketika matanya menatap Umar bin Saad, segera Qasim berteriak lantang, “Wahai Umar, apakah engkau tidak takut kepada Allah? Apakah engkau tidak pernah memikirkan keadilan Tuhan? Apakah engkau akan menerjang apa yang dilarang Nabi? Engkau mengaku muslim tapi pada saat yang sama membiarkan anak Nabi kehausan.”

Umar bin Saad kemudian memerintah pasukannya untuk mengepung Qasim. Acungan pedang musuh semakin menyempitkan ruang gerak Qasim. Tiba-tiba sebuah ayunan pedang menghantam kepalanya, sebuah panah melesak ke dalam punggungnya dan sebuah tombak menusuk pundaknya. Imam Husein as mendengar suara teriakan dari medan pertempuran, “Paman lihatlah aku.” Imam Husein as dengan cepat menuju tubuh Qasim. Sesampainya di sisi tubuh Qasim, beliau langsung memeluk tubuh yang menjadi kenangan dari saudara tercintanya. Dengan sangat hati-hati Imam membersihkan darah yang menutupi wajah Qasim.

Imam Husein as kemudian mengecup dahi Qasim. Beliau tidak kuasa menahan tangisnya melihat kondisi keponakannya. Musuh yang menyaksikan pemandangan ini juga ikut terharu dan tidak mampu menyaksikannya lebih lama. Imam Husein as menangis dan berkata, “Demi Allah, sangat sulit bagi pamanmu melihat kenyataan ia tidak mampu menolong orang yang telah membantunya.” Qasim bin Hasan al-Mujtaba akhirnya bergabung dengan para syuhada Karbala lainnya. Imam Husein as kemudian bermunajat dengan Tuhannya, “Ya Allah, hancurkan para musuh ini. Bantai mereka satu persatu dan jangan biarkan satupun dari mereka hidup. Putuskan rahmat-Mu dari mereka.” (IRIB Indonesia/SL/NA)

Jejak-jejak Pahlawan Karbala, Ali Akbar

Karbala menjadi arena ujian bagi orang-orang yang sabar dan bertakwa. Imam Husein sejak awal menyerukan kepada pengikut dan keluarga untuk bersabar dan bertawakal. Ketika keluar dari Mekah, dalam khutbahnya beliau berkata, “Kami rela atas Ridha Allah dan bersabar menghadapi musibah yang menimpa. Ya Allah, anugerahilah kami kesabaran.”

Di salah satu peristirahatan di tengah perjalanan menuju Karbala Imam Husein berkata, “Wahai manusia, siapa di antara kalian yang berani menerima sabetan pedang dan luka akibat tebasan ikutlah bersamaku, jika tidak maka kalian kembalilah.”

Di malam Asyura, Imam Husein kepada saudarinya Sayidah Zainab dan para wanita berkata, “Musuh ini tidak memiliki tujuan lain selain membunuhku. Namun aku menasehatkan kepada kalian supaya bertakwa kepada Allah, dan bersabar dari musibah ini.”

Di pagi hari Asyura, Imam Husein kepada pengikutnya menasehatkan untuk bertakwa kepada Allah. Sejatinya orang yang setiap malamnya diisi dengan tangisan shalat, doa dan lantunan al-Quran hingga pagi menjelang, maka keyakinannya senantiasa teguh, dan kesabarannya sangat kokoh.

Salam bagimu Husein. Salam bagimu imam yang sabar dalam menghadapi musibah besar, dan hanya menggantungkan harapan kepada Allah? Tanpa iman yang kokoh, bagaimana mungkin beliau bisa tahan menyaksikan kesyahidan keluarga dan pengikut setianya yang dibantai musuh, hingga beliau sendiri menemui kesyahidan. Tanpa kesabaran dan keteguhan iman, bagaimana beliau menyaksikan syahidnya Ali Akbar yang masih sangat muda di tangan musuh di depan matanya sendiri.

Imam Husein sangat mencintai Ali Akbar. Wajah putra Imam Husein ini paling menyerupai Rasulullah. Setiap kali para sahabat Imam Husein ingin bertemu dengan Rasulullah, mereka menemui Ali Akbar dan menghidupkan kembali memori tentang Rasulullah Saw.

Ali Akbar adalah pemuda yang tampan dan pemberani. Dikisahkan, ketika Imam Husein rindu untuk mendengarkan lantunan al-Quran yang biasa dibaca Rasulullah, beliau meminta Ali Akbar untuk melantunkan al-Quran.

Ali Akbar adalah putra tertua Imam Husein. Di hari-hari tersulit, Ali Akbar menjadi penentram hati Imam Husein. Bahkan Ali Akbar turut menyertai Imam Husein hingga akhir hayatnya di padang Karbala. Imam Husein berkata kepada Ali Akbar, “Anakku bersiaplah untuk melakukan perjalanan. Kamu mendengar dan melihat bagaimana Rasulullah meninggalkan Madinah. Kini tiba saatnya bagi kita untuk hijrah. Kamupun harus berpisah dengan Madinah.” Ali Akbar pun sadar bahwa perjalanan kali ini merupakan perjalanan tanpa kembali.

Di salah satu tempat peristirahatan dalam perjalanan menuju Irak, Imam tertidur, dan beliau mengucapkan perkataan yang diulang-ulang, “Inna Lillahi wa ina ilahi rajiun wal Hamdulillah, Kita dari Allah dan akan kembali kepada-Nya. Segala puji hanya bagi Allah swt.” Mendengar ungkapan ayahnya itu, Ali Akbar mendekati ayahnya dan bertanya,  “Wahai ayah mengapa engkau mengucapkan Innalillahi dan hamdallah?”

Imam Husein menjawab, ” Anakku, aku tertidur sejenak dan bermimpi. Dalam mimpiku aku menyaksikan kuda putih yang berkata bahwa satu rombongan akan lewat dan kematian bersama mereka.”

Ali Akbar menyahut,  “Ayah, Tuhan tidak akan menimpakan keburukan kecuali kita tidak di jalan yang benar?” Imam kembali menjawab, “Benar anakku, demi Tuhan tempat kembali seluruh hamba-Nya, kita berada di jalan kebenaran.” Ali Akbar berkata, “Lalu tidak ada yang tersisa kecuali mati demi memperjuangkan kebenaran.”

Perkataan Ali Akbar ini meneguhkan hati Imam Husein. Mendengar ketulusan putranya itu, beliau meneteskan air mata. Lalu berdoa, “Ya Allah anugerahkan pahala terbaik bagi putraku Ali, dia adalah kebanggaan ayahnya, mata hati yang menentramkan jiwaku.”

Ali Akbar seperti petir yang menyambar di medan perang. Ia berteriak memperkenalkan dirinya tanpa rasa gentar sedikitpun. Inilah manifestasi dari keberanian dan ketulusan hati. Tidak ada tujuan dari putra manusia mulia ini selain membimbing manusia menuju jalan-Nya yang benar. Sebagaimana yang ditegaskannya, “Aku datang untuk mendukung ayahku Imam Husein, yang berjuang memperbaiki urusan umat Islam yang diselewengkan oleh penguasa zalim.”

Ali Akbar meminta izin dari sang ayah untuk maju melawan musuh. Di medan tempur, Ali Akbar sangat piawai dalam berperang. Gerakan dan ketangkasannya bertempur menyerupai Ali bin Abi Thalib as yang terkenal dengan sebutan Singa Allah.

Tariq bin Katsir dari pasukan umar Saad  bertandang ke medan laga menghadapi Ali Akbar. Namun tidak berapa lama pedang Zulfikar Imam Ali yang berada di tangan Ali Akbar menghabisi nyawa musuhnya itu. Kemudian saudara Tariq yang berniat membalas dendam maju ke arena pertempuran menghadapi Ali Akbar. Kali ini pun nasibnya tidak jauh berbeda dengan Tariq.

Tak sedikit pasukan musuh yang mati menjadi mangsa sambaran pedang Ali Akbar. Namun, saat tenaganya sudah terkuras dan jumlah musuh seakan tak berkurang, Ali Akbar sempat mendatangi sang ayah dan berkata: “Ayah, aku tercekik kehausan sehingga (senjata) besipun kini memberatkanku…”

Imam Husein as menjawab: “Tabahkan dirimu, hai puteraku tercinta. Sesungguhnya Rasulullah tak lama lagi akan memberimu minum yang akan membuatmu tidak akan pernah lagi merasa kehausan.”Remaja berhati baja itu akhirnya kembali lagi ke medan laga. Namun, keadaan Ali Akbar yang sudah nyaris tanpa daya itu segera dimanfaatkan musuh untuk menyerangnya. Darahnya yang mengucur segera disusul dengan sambaran anak panah yang menusuk tubuhnya secara bertubi-tubi. Dalam kondisi fisik yang mengenaskan itu, bibir Ali Akbar mengucapkan kata-kata yang dimaksudkan kepada ayahnya: “Sekarang aku sudah melihat kakekku yang sedang membawa cawan yang beliau persiapkan untukmu.”Ali Akbar lalu tergolek di atas kudanya yang berputar-putar ke sana kemari setelah kehilangan kendali di tengah riuhnya suasana perang. Tubuhnya yang sudah mengenaskan itu masih sempat dihantam senjata dan dipanah lagi saat kuda yang tak terkendali itu bergerak di sekitar pasukan musuh.

Di saat-saat itulah, sambil memanfaatkan sisa-sisa tenaga dan nafasnya, Ali Akbar berucap lagi: “Salam atasmu wahai ayahku, sekarang aku sudah menyaksikan kakekku Rasulullah. Beliau menyampaikan salam kepadamu dan bersabda: ‘Cepatlah datang kepada kami!'” Kemudian beliau menghembuskan nafas terakhirnya. Inna lillahi wa inna ilahi rajiun. (IRIB Indonesia)

Jejak-Jejak Pahlawan Karbala, Ali Ashgar

Salah satu poin yang paling penting dalam gerakan kebangkitan Imam Husein dan pengikutnya di karbala adalah spirit syahadah. Pengikut Imam Husein satu-persatu terutama di malam Asyura menyatakan kesetiaannya mendukung perjuangan Imam Husein dalam menjemput kesyahidan. Semua itu menunjukkan bahwa kesyahidan di jalan Allah adalah cita-cita yang menghunjam dalam diri mereka. Imam Husein dan pengikutnya melepaskan ketergantungan dunia dengan memilih kehidupan abadi di jalan ilahi.

Allah Swt dalam berbagai ayat al-Quran mengingatkan mengenai keutamaan syahadah. Misalnya dalam surat at-taubah ayat 111, Allah berfirman “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al-Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.”

Dalam budaya Islam, syahadah memiliki nilai yang sangat tinggi, bahkan menjadi cita-cita para aulia Allah. Rasulullah Saw dalam sebuah hadis bersabda, “Di atas Kebaikan ada kebaikan lainnya. Namun tidak ada kebaikan yang lebih tinggi dari syahid di jalan Allah.” (Bihar al-Anwar jilid 97 hal.10)

Dalam sebuah hadis lain, Rasulullah menyatakan bahwa syahadah merupakan kematian terbaik dan tertinggi. Setiap tetesan darah syuhada di hadapan Allah lebih utama dan bernilai. Syuhada adalah orang yang paling pertama masuk surga, dan semua orang merasa iri dengan kedudukan tinggi mereka. Sebab penyebutan  syahadah karena para malaikat rahmat hadir di arena jihad dan mereka menyaksikan orang yang mati di jalan Allah dan menyebutnya syahid.

Demikian pula Allah Swt dan Rasulullah Saw bersaksi bahwa orang-orang yang mati di jalan Allah adalah ahli surga. Dengan kata lain, orang-orang yang meninggal di jalan Allah disebut syahid karena pada hakikatnya mereka hidup dan tidak mati. Terkait hal ini Allah Swt dalam surat al-Baqarah ayat 154 berfirman,”Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.”

Syahid di jalan Allah merupakan kehormatan dan kebanggaan bagi pelakunya. Karena dengan kematiannya akan memicu percikan kebangkitan. Dengan demikian, Imam Husein as lebih memilih mati syahid dari pada hidup dengan kehinaan. Karena kesyahidan di jalan Allah memberikan kesadaran dan pengaruh bagi kehidupan.

Sayidah Zainab dalam khutbahnya di hadapan Yazid mengungkapkan kebanggaan syahadah di jalan Allah, dan menyebut syahid sebagai akhir kehidupan. Imam Sajjad di hadapan Ibn Ziyad berkata, “Syahadah adalah kebanggaan kami, apakah kalian masih akan menakuti kami dengan kematian?”

Syahadah merupakan kebanggaan bahkan bagi bayi yang masih menyusui sekalipun. Ali Ashgar adalah pengikut Imam Husein as yang paling muda. Beliau syahid demi membela kebenaran yang dikibarkan Imam Husein di padang Karbala, dan pesan-pesannya tetap abadi hingga kini.

Imam Husein as memasuki medan laga. Tidak ada lagi yang tersisa. Abbas syahid dengan mengenaskan. Begitu pula dengan Ali Akbar dan Qasim. Semua pengikut Imam Husein gugur syahid. Kuda tunggangan perang pun tiada. Musuh semakin congkak. Imam Husein berkata, “Siapa lagi akan akan menjadi pendukungku menolong agama Allah? Apakah masih ada orang membela ajaran Rasulullah?

Namun telinga para pengikut yazid telah terkunci dan mata mereka telah buta atas hakikat kebenaran yang dikumandangkan Imam Husein. Ketika itu terdengar suara tangisan dari dalam kemah. Ali Asghar yang masih bayi menjawab seruan ayahnya. Kemudian Imam Husein kembali berteriak, “Siapakah yang siap menjadi pengikutku?” ketika itu pula terdengar tangisan dari arah kemah. Putra termuda Imam Husein memenuhi panggilan ayahnya. Kemudian Imam Husein memanggil saudarinya Sayidah Zainab, seraya berkata, “Saudariku bawa Ali Ashgar ke sini!”

Imam Husein meraih bayi itu lalu menciuminya, sambil berucap, “Alangkah celakanya kaum ini sejak mereka dimusuhi oleh kakekmu.” Bayi bernama Ali Asghar itu beliau bawa ke depan barisan pasukan musuh dan memperlihatkannya kepada musuh untuk menguji adakah mereka masih menyisakan jiwa dan perasaan mereka sebagai manusia. Imam Husein berdoa, “Ya Allah, hanya inilah yang tertinggal dariku, dan jiwanyapun rela aku korbankan di jalan-Mu”

Beliau lalu menatap ke arah musuh di depannya itu. Bayi berusia enam bulan beliau junjung sambil berseru: “Hai para pengikut keluarga Abu Sufyan, jika kalian menganggapku sebagai pendosa, lantas dosa apakah yang diperbuat oleh bayi ini sehingga setetes airpun tidak kalian berikan untuknya yang sedang mengerang kehausan.”

Sungguh biadab, tak seorangpun di antara manusia iblis itu yang tersentuh oleh kata-kata Imam Husein. Yang terjadi justru keganasan yang tak mengenal sama sekali rasa kasih sayang dan nilai-nilai kemanusiaan.

Tangisan Ali Asghar terus memuncak. Ia seperti tahu penderitaan yang dialami ayahnya sendiri. Namun tidak ada yang bisa dilakukan kecuali menangis. Dalam kondisi mengenaskan itu, tiba-tiba Umar Saad pimpinan komando musuh mengarahkan pandangannya kepada pasukannya.

Ketika itu, seseorang bernama Harmalah bin Kahil Al-Asadi menarik anak panah dan membidikannya menuju Ali Asghar. Melihat ulah serdadu musuh itu, Imam Husein berteriak, “Jika kamu tidak mengasihaniku, setidaknya kasihanilah bayi ini.” Namun perkataan Imam Husein itu tidak memengaruhi Harmalah. Bahkan ia mengarahkan anak panah menuju Ali Ashgar.

Tanpa komando, benda yang ujungnya runcing itu melesat ke arah bayi Ali Asghar. Tidak berapa lama bayi malang itu menggelepar di atas telapak Imam Husein yang tak menduga akan mendapat serangan sesadis itu, sehingga tak sempat berkelit atau melindunginya dengan cara apapun. Beliau tak dapat berbuat sesuatu hingga bayi itu diam tak berkutik setelah anak panah itu menebus lehernya. Ali Akbar telah menemui ajalnya dalam kondisi yang mengenaskan. Darah segar mengucur dari lehernya hingga menggenangi telapak tangan ayahnya.

Dengan hati yang tersayat-sayat, beliau melangkah kembali ke arah perkemahan. Beliau menggali lubang kecil untuk tempat persemayaman jasad suci Ali Asghar.

Dengan penuh kesedihan, Imam Husein menghampiri perkemahannya untuk mengucapkan kalimat perpisahan terakhir, terutama dengan saudarinya Zainab. Inna Lillahi wa inna ilahi rajiun. (IRIB Indonesia/PH)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s