Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis): Betapa Indonesia memerlukan Prolanis yang komprehensif dan inovatif

Sumber. Syarhan, Laporan akhir Pelaksanaan Pilot Project-Prolanis Asthma. Pelaksanaan Prolanis Asma  Sebagai Program yang “Excellent” Dalam Pengelolaan  Asma Bagi  Peserta BPJS Kesehatan di FKTP BPJS Kesehatan KCU Tasikmalaya. Tasikmalaya, Jawa Barat. Indonesia. 2016. Hal 23 -24. (Indonesian Version)

The Final Report: Pilot Project-Prolanis Ashma on Implementation of Prolanis as an Excellent Program in the Management of Asthma for Participants of BPJS Health in Primary Care Facility. (original version). It has presented by Syarhan, dr. MM in the 8th IPCRG World Conference Amsterdam, May 2016.

ipcrg

Tulisan ini merupakan refleksi-mungkin hanya sedikit- dengan kematian saudara-saudara kita Hendrik Ceper (Presenter & Komedian) dengan penyakit utama Status Asmatikus dan Husni Kamil Malik (Ketua KPU Pusat) dengan penyakit utama Diabetes serta 70 % kematian yang terjadi di Indonesia akibat penyakit kronis. Betapa Indonesia memerlukan program pengelolaan penyakit kronis (Prolanis) yang komprehensif dan inovatif. Pertanyaannya adalah: Apa jadinya Indonesia tanpa adanya Prolanis atau  apabila Prolanis tidak dijalankan dengan baik di jaman Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)?

Hubungan Sederhana Antara Akses, Pendanaan, dan Penyediaan Layanan Khususnya Pengelolaan Asma Bagi Peserta BPJS Kesehatan

Untuk memahami hubungan sederhana antara Prolanis,  akses, pendanaan, dan penyediaan layanan penyakit kronis khususnya pengelolaan asma secara tepat dan adekuat yang terjadi dimasyarakat kita dewasa ini dan yang akan menjadi bencana dimasa yang akan datang (impending disarter) jika tidak dikelola dengan baik, dalam hal pelaksanaan dan keterkaitan antara pasien asma dengan Prolanis asma di FKTP BPJS Kesehatan dapat dijelaskan dengan 2 kategori berdasarkan aspek kepesertaan dan sumber pendanaan sebagai berikut:

1. Pasien bukan peserta BPJS Kesehatan dan tidak memiliki asuransi kesehatan lainnya (private insurance)

Pasien akan berobat dengan menghabiskan semua dana mereka untuk kesehatan, mengharuskan mereka untuk menggunakan tabungan hidup mereka, menjual aset, atau meminjam yang berpotensi menghancurkan masa depan mereka sendiri dan masa depan anak-anak mereka. Jika dana mereka untuk berobat semakin berkurang, mereka selanjutnya mereka akan menunda atau tidak sama sekali akses ke pelayanan kesehatan yang pada akhirnya pasien akan mengalami penderitaan dan ketidakmampuan dalam waktu lama yang mendorong mereka ke dalam kemiskinan.

2. Pasien peserta BPJS Kesehatan

Dalam hal pelaksanakan Prolanis asma di FKTP BPJS Kesehatan, ada 2 hal yang akan terjadi, yaitu:

1. Pemerintah atau BPJS Kesehatan menetapkan pelaksanaan Prolanis asma dan semua level dalam pelayanan kesehatan menjalankan perannya dengan baik. Hal ini akan mendorong pasien untuk mencapai tingkat kontrol asma yang baik dan meningkatkan kualitas hidup pasien, peningkatan produktifitas, dan berdampak luas terhadap Gross National Product (GDP) negara kita, Indonesia.

Dengan pengelolaan asma yang efisien dan efektif dengan Prolanis Asma kebanyakan    pasien dapat mencapai kontrol yang baik asma mereka. Ketika asma terkontrol dengan baik, pasiendapat:  Terhindar dari gejala bermasalah selama siang dan malam hari,  kebutuhan terhadap penggunaan obat reliever  sedikit atau tidak sama sekali, hidup secara aktif dan  produktif, memiliki fungsi paru mendekati normal atau normal, dan terhindar dari eksaserbasi atau serangan asma akut. Pasien dapat melakukan aktifitas sehari-hari secara normal dan produktif.

2. Pemerintah tidak menetapkan pelaksanaan Prolanis asma sehingga tidak ada peran serta yang maksimal dari semua level pelayanan kesehatan. Dengan asumsi: Prevalensi penderita asma 5 % dari jumlah peserta, pembayaran kapitasi per peserta BPJS Kesehatan berkisar antara Rp 4.500.- – Rp. 10.000.- dengan pengeluaran per pasien asma per bulan sebesar Rp. 400.000.- (Dengan obat reliever dan kontrol sesuai standar GINA & Konsensus Asma Indonesia), artinya bahwa jika ada 50 pasien asma (jumlah peserta rata-rata 1000 peserta dengan penerimaan dan kapitasi berkisar antara Rp. 4.500.000.- – Rp. 10.000.000.- ) di FKTPyang ditangani maka FKTP harus menganggarkan dana sebesar Rp. 20.000.000.- Dana tersebut hanya untuk pembiayaan pengobatan saja, belum termasuk dana untuk edukasi, senam sehat,  pemeriksaan fungsi paru, dan biaya untuk kegiatan pengelolaan asma yang komprehensif seperti yang kami desain untuk Prolanis Asma (The 9 Pillars of Prolanis Asthma).

2015-09-16-20-28-37

Sehingga ada dua kemungkinan aksi yang akan dilakukan oleh Primary care dalam pengelolaan asma tanpa program Prolanis asma yaitu:

1. Tidak melayani pasien asma sama sekali di FKTP, dengan konsekwensi meningkatnya jumlah kasus rujukan ke pelayanan sekunder atau Rumah Sakit, baik kasus rawat jalan maupun kasus-kasus rawat inap akibat eksaserbasi. Meningkatnya biayapengobatan akan meningkatkan beban untuk pasien dan masyarakat  melalui hilangnya produktivitas ditempat kerja yang selanjutnya akan mengganggu keutuhan keluarga, dan menjadi beban sistem kesehatan nasional kita.  Pasien akan mencari pelayanan alternatif yang tidak sesuai dengan standar pengelolaan asma yang ideal yang pada akhirnya akan menyebabkan gejala pernapasan, dan timbulnya serangan yang terkadang memerlukan perawatan kesehatan yang mendesak dan mungkin berakibat fatal dan kematian, selanjutnya memperburuk kondisi pasien dan akan mengancam jiwa.  Pada kondisi tersebut , Asma  sebagai penyakit kronis yang umum dan berpotensi serius yang membebankan beban besar pada pasien, keluarga mereka,  masyarakat, dan BPJS Kesehatan atau Pemerintah.

2. FKTP melayani sesuai dengan standar pengelolaan asma, disatu sisi pasien asma akan mendapat pengelolaan yang baik dengan berbagai dampak yang baik pula terhadap pasien, tetapi di sisi lain FKTP akan menghadapi kolapsnya pendanaan pada beberapa saat yang tentu akan berdampak tehadap pelayanan secara menyeluruh dan selanjutnya akan menghentikan pelayanan asma yang akhirnya akan berakibat sama dengan penjelasan sebelumnya.