Sang Idola Sang Primary Care

“No one can be honestly convey real life of Primary Care, unless the Primary care in own way.” (Syarhan, 2015).

 primarycare

Tahun kemarin (2015), tahun ini (2016), dan sepertinya hingga tahun-tahun berikutnya Primary Care di Indonesia akan mengalami tahun-tahun suram dimana kita akan menghadapi situasi dimana peran kita akan menjadi topik hangat dalam sistem pelayanan kesehatan secara luas di negeri tercinta kita semua, Indonesa Raya. Isu-isu sentral akan terus bergulir seperti masalah pemberlakuan Dokter layanan primer (DLP), masalah pembatasan (atau bisa jadi pelarangan) pemberian obat langsung ditempat pelayanan oleh dokter, masalah gratifikasi dokter yang merupakan dampak dari manjemen bisnis di bidang kefarmasian, hingga masalah profesionalisme dokter itu sendiri yang sekarang ini semakin menjadi sorotan .

Mengapa hal ini terjadi? Apa yang salah dengan negeri kita ini? Apa yang salah dengan Primary care yang sudah berpuluh-puluh tahun mengabdikan dirinya secara total dengan pelayanan yang komprehensif?

Jawabnya sederhana! Karena kehadiran primary care di jaman Universal Health Coverage dan di era JKN  sekarang ini sangat berpengaruh terhadap kelangsungan pelayanan kesehatan secara nasional dan global dan tentu saja sangat berdampak terhadap kehidupan sosial dan perekonomian secara luas.

Namun sebelumnya saya ingin menyampaikan: apakah Primary Care itu sebenarya? Untuk menjawab pertanyaan yang sangat mendasar ini ada baiknya kita melihat dengan jernih spirit dan filosofi Primary Care berdasarkan defenisi yang disepakati melalui Declaration of Alma-Ata” International Conference on Primary Health Care, Alma-Ata, USSR, 6-12 September 1978 yang menyatakan bahwa:  

“ Primary health care is essential health care based on practical, scientifically sound and socially acceptable methods and technology made universally accessible to individuals and families in the community through their full participation and at a cost that the community and country can afford to maintain at every stage of their development in the spirit of self-reliance and self-determination. It forms an integral part both of the country’s health system, of which it is the central function and main focus, and of the overall social and economic development of the community. It is the first level of contact of individuals, the family and community with the national health system bringing health care as close as possible to where people live and work, and constitutes the first element of a continuing health care process. “(VII)

Dari pengertian dasar di atas tentang Primary Care tentu saja ada banyak hal yang dapat kita  pahami tentang kedudukan dan fungsi Primary care dalam sistem pelayanan kesehatan. Termasuk, bagaimana hubungan dan peran masyarakat dan pemerintah dalam mendukung tercapainya fungsi luhur Primary Care itu sendiri.

Realitanya adalah bahwa belum pernah terjadi sebelumnya di negeri kita tercinta ini dimana sebuah program pendidikan kedokteran yang akan dilaksanakan telah mendapatkan respon yang luar biasa dari kalangan dokter-dokter kita seluruh Indonesia. Yang setuju bersikukuh untuk diterapkan, yang tidak setuju tidak kalah gesitnya untuk menolak program ini. Tentunya saja masing-masing memberikan argumentasi dan pokok-pokok pikiran untuk menguatkan pendapatnya. Hal ini tentu saja menjadi bola api yang akan terus bergulir seiring dengan keinginan beberapa pihak yang merasa berkepentingan dengan situasi tersebut. Apakah mereka benar-benar berjuang untuk kepentingan dan kesejahteraan masyarakat, penguatan ketahanan nasional di bidang kesehatan, meningkatkan fungsi luhur Primari Care? Mereka yang memaksakan kehendaknyalah yang harus menjawab semua itu!  Di sisi lain -sebagai pemerhati dan pemeran Primary care- saya sangat memahami dan semakin yakin bahwa rentetan peristiwa tersebut mencerminkan bahwa peran dan fungsi Primary care sangat kuat dan menjadi penentu keberhasilan pembangunan di bidang kesehatan secara luas.

Kemanakah para pelaksana pelayanan Primary Care? Kenapa mereka tidak ada yang keluar kandang untuk bicara?! Ternyata mereka sedang bekerja, berhadapan dengan masalah yang dihadapi oleh pasien dan masyarakat sekitarnya. Kami sedang asyik menikmati indahnya melayani para petani, para nelayan, para korban penggusuran, orang yang terpinggirkan secara sosial dan geografi, para peserta BPJS Kesehatan yang memiliki ekspetasi bahagia denga pelayanan. Inilah cara kami melayani, mengabdi,  dan memenuhi kebutuhan dasar masyarakat di bidang kesehatan diseluruh pelosok Indonesia, yang bahkan pemerintah sekalipun belum mampu mengatasi persoalan pemerataan tenaga kesehatan di Indonesia.

Kami sangat sedih  dengan tingkah laku para petinggi dan para aktifis yang mengatasnamakan Primary care sementara kaki-kaki dan pikiran mereka bergelut dengan tuntutan kepentingan kelompok mereka sendiri! Jujur! Tidak ada yang paling memahami tentang Primary Care selain Primary Care itu dengan caranya sendiri. Sehingga apapun tantangan dan kebutuhan Primary Care seharusnya lahir dari pusat kegiatan atau dari dunia nyata kehidupan Primary care itu sendiri. Tentu saja kita tidak ingin diperspektifkan menurut cara pandang mereka yang hanya mengatasnamakan Primary care atau karena mereka memiliki kedudukan yang tinggi saat ini untuk dapat memaksakan kehendak mereka.

Saling-NPP - Copy

Inilah bagian yang saya maksudkan sebelumnya bahwa upaya yang dilakukan oleh pihak-pihak tertentu merupakan kerancuan berfikir dan bertindak sistematik terhadap primary care Indonesia. Namun jangan bawa perasaan dulu karena pengalaman sebelumnya di negeri kita ini kebijakan yang dibuat biasanya diikuti dengan kelemahan dan kemiskinan pengawasan dan penindakan. Sehingga kita semua tetap waspada dan tetap memberikan pelayanan yang terbaik bagi masyarakat tercinta. Inilah sikap bijak kita sebagai penyedia layanan Primary care dalam menghadapi jaman yang penuh dengan tantangan dan fitnah bagi Primary Care Indonesia. Saya yakin bahwa sebenarnya Primary Care Indonesia sangat siap menghadapi MEA dan komitmen global selama kita mengedepankan semangat kemandirian (self-reliance) dan semangat penentuan nasib sendiri (self-determinant).

Hal ini sangat penting, karena yang paling memahami kita dengan segala perkembangan, tantangan, dan kebutuhan kita adalah kita sendiri, Primary care Indonesia. Akhirnya, Selamat Idul fitri 1437 H, mohon maaf lahir dan bathin. Maju terus Primary care Indonesia. ” (Syarhan – Insepar Foundation)