STRUKTUR HUBUNGAN KELUARGA

Dalam struktur hubungan keluarga, sepasang suami istri biasanya memilih tiga struktur berikut ini, yaitu:

1. Struktur Komplementer

Disebut juga pola keluarga tradisional. Pada struktur ini ada du pihak yang menjalankan peran yang tidak sama. Masing-masing menekankan ketidaksamaan itu. Setiap pihak tidak bisa hidup tanpa kehadiran pihak lain. Struktur ini bertentangan dengan asumsi sebagian orang yang mengatakan bahwa keluarga itu akan baik apabila kedua belah pihak, suami istri, mempunyai banyak kesamaan, similarity. Dlam struktur komplementer, kesamaan justru merusak hubungan suami istri. Misalnya dua-duanya sama-sama pendiam, atau sama-sama pemarah. Tentu kelaurga seperti ini tidak akan damai. Walhasil, tidak betul anggapan bahwa keluarga yang memiliki banyak kesamaan relative stabil.

Dari sekian banyak penelitian ditemukan bahwa struktur keluarga yang terjamin stabilitasnya adalah struktur keluarga tradisional, struktur komplementer. Suami misalnya sebagai pencari nafkah, istri berperan sebagai pengurus rumah tangga yang memelihara dan membimbing anak-anak. Istri sangat membutuhkan suami, seperti juga suami sangat membutuhkan istrinya.

Struktur keluarga seperti ini juga mendapatkan kritik juga  karena salah satu karakteristik komplementer ialah adanya hubungan kekuasaan yang tidak seimbang. Ada power relationshiop yang tidak seimbang. Biasaya suami memiliki lebih banyak kekuasaan ketimbang istri. Struktur komplementer juga memiliki kelemahan dibalik kestabilannya, yaitu tampak apabila keluarga ini dipisahkan secara tiba-tiba. Mereka akan mengalami kesulitan. Sebagai contoh apabila salah satunya meninggal atau terpisahkan, maka sulit bagi pihak lainnya u ntuk memperoleh keseimbangan psikologi kembali karena telah tercipta saling ketergantungan emosional yang sangat kuat.

2. Struktur Simetris

Disebut juga struktur keluarga modern. Suami istri memasuki pernikahan seperti sebuah kontrak, dan mereke merumuskan kontrak itu secara tertulis. Diantara keduanya ada power yang seimbang. Keduanya bisa memutuskan kehendaknya sendiri, bebas dalam kemandirian. Di sini unsure otonomi lebih dominan daripada unsure relationship. Masing-masing mempunyai kehidupan sendiri dan mereka diikat oleh sebuah kerjasama yang disebut sebagai kontrak keluarga. Semuanya bisa mengejar karier sesuai keinginannya.

Struktur simetris cendering tidak stabil, bahkan biasanya tidak tahan terhadap guncangan yang terjadi pada kehidupan keluarga. Misalnya ketika menghadapi persoalan besar di lingkungan keluarga, masing-masing pihak cenderung menyelesaikan persoalan itu sendiri-sendiri.

3. Struktur Paralel

Gabungan struktur komplementer dan simetris. Kedua belah pihak berada dalam hubungan komplementer, saling melengkapi, saling bergantung, tetapi dalam waktu yang sama mereka memiliki beberapa bagian dari perilaku kekeluargaan mereka  yang mandiri. Jadi, masing-masing memilih bagian-bagian yang mandiri dan dilakukan lewat negosiasi.

Sumber: sq for kids, Prof. Dr. Jalaluddin Rakhmat, M.Sc

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s