Perlu Usaha Untuk Mendengar dan Mengamalkan Nasihat

 

Di bawah sebuah lembah yang subur dan di dekat hamparan padang rumput hijau dan indah, terdapat sebuah danau besar. Hidup di danau itu seekor kura-kura dan dua burung belibis. Mereka bertiga telah bersahabat dan melewati musim hujan bersama. Setelah berenang dan terbang, burung belibis itu beristirahat di tepi danau dan bercerita tentang segala hal dengan kura-kura. Apa saja mereka bicarakan.

Waktu berlalu dan perlahan-lahan, hujan mulai berkurang dan hawa mulai memanas tanda musim panas akan tiba. Air danau pun mulai menyurut. Burung belibis yang tidak bisa bertahan hidup tanpa air itu mulai merencanakan waktu yang tepat untuk berhijrah meninggalkan danau itu menuju tempat baru yang penuh dengan air di balik gunung. Mereka berdua mengungkapkan rencana itu kepada sang kura-kura.

 

Satu di antara burung belibis itu mengatakan kepada kura-kura, “Meski kami telah terbiasa hidup di tempat ini, tapi tahun ini air danau sudah mulai mengering dan kami tidak akan dapat hidup tanpa air. Oleh karena itu kami terpaksa terbang mencari danau lain di balik gunung. Akan tetapi di satu sisi kami juga sangat sedih karena harus meninggalkanmu.”

 

Sang kura-kura sedih mendengar rencana kedua temannya itu dan mulai menitikkan air mata seraya berkata, “Jika kalian pergi meninggalkanku, aku akan sedih sekali dan mungkin aku akan mati karena kesedihan.”

 

Burung belibis lainnya menjawab, “Kami juga sangat ingin bersamamu dan kami juga merasa sangat berat untuk meninggalkanmu. Tapi apa yang dapat kami lakukan? Dalam waktu dekat, air danau akan mengering dan pasti kami akan kesulitan mencari makanan.”

Sang kura-kura berharap mereka tidak pergi dan berkata, “Teman-temanku, kalian tahu sendiri, air juga sangat penting dalam hidupku, sama seperti kalian. Maka aku harap kalian sudi membawaku kemana pun kalian pergi.”

Permintaan kura-kura itu dijawab belibis, “Wahai kawan, kami juga memiliki harapan yang sama, akan tetapi tidak mungkin kamu mengikuti kami karena kamu harus menempuh perjalanan jauh melintasi gunung dan menaiki tebing-tebing. Kaki-kaki kami tidak kuat untuk mengikutimu berjalan. Selain itu, kamu juga tidak bisa terbang seperti kami.”

 

Kura-kura tetap memaksa dan berkata, “Tidak ada pekerjaan yang tidak mungkin. Kalian lebih cerdas dariku, kalian pasti akan menemukan jalan untuk membantuku. Jika kalian meninggalkanku sendiri di sini, maka kalian telah mengkhianati persahabatan kita.”

Salah satu burung belibis itu berkata, “Aku pikir ada cara untuk membantumu namun kami percaya akan sangat susah bagimu untuk melaksanakannya. Karena kami mengetahui kepribadianmu dan kami tidak yakin kamu dapat melakukannya.”

Sang kura-kura langsung menyela dan bertanya, “Mengapa? Memangnya ada yang kurang pada diriku?”

Belibis menjawab, “Kamu tidak dapat bersabar dan banyak berbicara, kamu tidak anggun dan tidak memiliki kepercayaan diri. Dengan mudah kamu marah. Jika ada orang berkata sesuatu, dengan cepat kamu marah. Selain itu kamu juga selalu ingin tahu urusan orang lain. Kamu bahkan tidak dapat diam dan tenang barang sejenak pun.”

 

Sang kura-kura menjawab, “Aku berterima kasih karena kalian telah mengungkapkan kekhilafanku. Orang yang tidak mengetahui kekurangannya tidak akan mampu berbenah diri. Pada saatnya nanti kalian akan mengetahui bagaimana aku memperbaiki sifatku. Aku berjanji akan bersikap seperti yang kalian inginkan.”

 

Belibis tersenyum dan mengatakan, “Kami telah berulangkali mengujimu dan kami menyadari bahwa kamu tidak dapat memenuhi janji-janjimu. Namun karena kamu adalah kawan kami, maka kami minta kamu untuk berjanji untuk tidak mengucapkan satu kata pun dalam perjalanan sampai tujuan.”

Kura-kura pun dengan segera menjawab, “Ah itu mudah sekali, aku bahkan siap untuk menahan nafas.”

Kemudian burung belibis menjelaskan rencananya, “Perhatikan dengan seksama. Sepotong kayu ini harus kamu gigit sekuat-kuatnya dan kami akan terbang dengan mencengkeram kedua ujungnya. Dengan cepat kita akan sampai ke tujuan. Akan tetapi harus kamu ingat bahwa mungkin orang-orang akan menertawakan kita. Kamu harus dapat bersabar dan tidak mengatakan apa-apa.”

Apa yang dikatakan oleh burung belibis itu dilakukan oleh sang kura-kura. Ia menggigit bagian tengah dari potongan kayu itu. Kemudian kedua burung belibis itu terbang dan kura-kura mengikutinya. Mereka bertiga melewati banyak rumah hingga sampai di sebuah desa yang padat penduduk.

 

Warga desa itu menertawakan ketiganya karena yang mereka lakukan itu aneh sekali. Sang kura-kura marah mendengar apa yang dikatakan warga desa itu, namun dia segera ingat janjinya untuk tidak berkata sepatah kata pun. Semakin jauh, semakin banyak orang yang bergumam dan menertawan mereka. Akhirnya sang kura-kura tidak kuat ketika ia mendengar seseorang berkata, “Lihatlah mereka, kemana pun pergi mereka terbang bersama-sama.”

Sang kura-kura dalam hatinya berniat memberikan jawaban kepada orang-orang tersebut agar mereka tidak iri. Kemudian ia melepas gigitannya untuk menjawab, dan kura-kura itu jatuh dan mati. Melihat hal tersebut, kedua burung belibis itu melepaskan sepotong kayu yang mereka cengkeram dan terus melanjutkan perjalanan. Mereka berkata, “Tugas kami adalah memberi nasehat dan kami telah melaksanakannya, akan tetapi mendengar nasehat  dan mengamalkannya juga perlu kesabaran dan usaha.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s